Akurat dan Terpercaya
HomeIndeks
Berita  

Sekdes Di Lampung Selatan Undurkan Diri Demi Harga Diri, Diduga Akibat Ucapan Kades Tak Beretika

banner 120x600

LAMSEL, WARTAPRO.ID – Situasi pemerintahan Desa Kalirejo, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan tengah mengalami ketegangan internal. Sekretaris Desa Kalirejo, Sobari, mengundurkan diri dari jabatannya akibat pernyataan Kepala Desa Kalirejo, Budiyono, yang dinilai menyinggung harga diri sekdes (Sobari) dan perasaannya. Minggu (18/5/2025)

banner 325x300

Menurut sumber internal, pernyataan Budiyono disampaikan dalam forum internal pemerintahan desa beberapa waktu lalu, dan dianggap merendahkan integritas serta kinerja Sekdes. Meskipun detail pernyataan tersebut belum diungkap ke publik, efeknya telah menimbulkan kegaduhan di lingkungan desa.

Sobari menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil demi menjaga harga diri dan integritasnya sebagai perangkat desa. Dalam wawancaranya via telphone WhatsApp dengan KejarFakta.co, ia mengungkapkan bahwa ucapan kepala desa telah melukai perasaannya secara pribadi, sehingga ia memilih mundur dari jabatannya.

Kisruh ini mencerminkan adanya masalah komunikasi dan koordinasi di tubuh pemerintahan desa yang perlu segera diselesaikan agar tidak mengganggu pelayanan kepada masyarakat.

Saat dikonfirmasi melalui via WhatsApp, Sobari, mantan Sekretaris Desa Kalirejo, mengungkapkan alasan pengunduran dirinya kepada media kejarfakta.co.

“Saya mundur demi menjaga harga diri dan martabat saya sebagai Sekdes. Pernyataan beliau tidak mencerminkan etika kepemimpinan,” ujar mantan Sekdes (Sobari)

“Akses saya sebagai sekdes sangat terbatas. Dari pada saya menjadi penghambat, lebih baik saya mundur,” ujarnya. “Saya mengundurkan diri dengan kesadaran penuh. Surat pernyataan pengunduran diri saya pun ada. Di dalam forum pemerintahan desa, saya termasuk yang paling vokal. Justru karena itulah, pengunduran diri saya diterima dengan senang hati.”

Menurut Sobari, kondisi internal di Pemerintahan Desa Kalirejo tidak kondusif, dan hal tersebut menjadi gambaran mengapa ia memutuskan mundur.

“Saya ini seorang single fighter dan hanya saya yang berani menyuarakan keberatan terhadap kebijakan Kepala Desa Budiyono saat masih menjabat sebagai sekdes. Yang lain diam saja, tidak ada yang berani bersuara. Dan setelah saya keluar, makin tidak ada yang berani menyampaikan kritik. Aturan dibuat seolah-olah karena dianggap orang lain tidak paham,” tambahnya.

Sobari juga menyinggung soal pernyataan keras dari pimpinan yang menyebut bahwa aparat desa tidak bisa bekerja. Menurutnya, pernyataan itu menjadi pemicu kuat bagi dirinya untuk mundur.

“Saat pernyataan itu dilontarkan, saya tidak berada di balai desa karena sedang mendampingi warga, waktu itu ada  pendamping PLD yang mendengar ucapan Kepala Desa Budiyono keras dan terang-terangan mengatakan bahwa perangkat desa tidak bisa bekerja. Jika sudah ada kalimat seperti itu, kami ini dianggap apa? Prinsip saya, harga diri itu nomor satu,” jelas Sobari.

Ia juga sempat melakukan klarifikasi kepada rekan-rekan yang hadir pada saat itu untuk memastikan ucapan tersebut memang benar diucapkan. “Dan ternyata benar. Karena itu saya memilih keluar. Kondisi internal desa memang sedang tidak baik-baik saja, bisa dibilang corat-marut,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kalirejo, Budiyono, membantah semua tuduhan yang disampaikan oleh Sobari. Ia menampik bahwa telah melontarkan kata-kata yang menyinggung, dan menganggap situasi ini sebagai kesalahpahaman

Dikonfirmasi di Balai Desa Kalirejo beberapa hari yang lalu, Kepala Desa Budiyono bahwa Sekretaris Desa (Sekdes) tidak diberhentikan, melainkan mengundurkan diri atas inisiatif pribadi.

“Dia (sekdes) mengundurkan diri karena banyak kegiatan, selain di desa juga aktif di sekolah. Karena kesibukannya yang luar biasa, dia merasa tidak bisa membagi waktu,” jelas Budiyono kepada awak media.

Menanggapi isu mengenai kinerja Sekdes 3 dianggap kurang baik, Budiyono membantah keras. “Itu tidak benar. Tidak ada masalah sama sekali. Justru selama ini saya sangat menghargai kinerjanya.”

Budiyono juga menyampaikan bahwa sebenarnya pengunduran diri tersebut bukan yang pertama kali. “Sudah beberapa kali dia menyampaikan niat untuk mundur, tapi saya tahan karena mencari sosok seperti beliau itu tidak mudah. Kami butuh orang yang tidak hanya bekerja di balik meja, tapi juga bisa langsung turun ke masyarakat.”

Secara pribadi, lanjut Budiyono, hubungan mereka tetap baik dan pihak desa bahkan berharap Sekdes bisa kembali. Namun, karena kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi. “Dalam seminggu dia hanya bisa hadir di balai desa dua kali. Jadi memang sulit jika harus menjalankan tugas secara penuh.” Terang Budiyono. (*/Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *