Akurat dan Terpercaya
HomeIndeks
Berita  

URAK, Tradisi Jaga Malam yang Hidupkan Gotong Royong Warga Candisari

banner 120x600

Wartapro.id, Kabupaten Semarang- Di tengah derasnya arus modernisasi dan kemajuan teknologi keamanan, warga Dusun Candisari, Desa Kelurahan, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, tetap setia mempertahankan tradisi kuno bernama URAK sebuah sistem jadwal jaga malam berbasis gotong royong yang diwariskan turun-temurun.

banner 325x300

Tradisi ini bukan sekadar sistem pembagian tugas ronda, tetapi simbol kuat solidaritas sosial dan tanggung jawab antarwarga dalam menjaga keamanan kampung. URAK diwujudkan dalam bentuk sepotong kayu bertuliskan nama setiap warga. Potongan kayu itu berpindah tangan dari satu rumah ke rumah lain, menandai siapa yang mendapat giliran berjaga malam.

Jika seorang warga lupa menyerahkan URAK kepada yang berikutnya, maka ia wajib berjaga kembali pada malam selanjutnya. Tanpa aturan tertulis, tanpa pemaksaan namun semua berjalan tertib karena didasari kesadaran kolektif.

“URAK ini bukan sekadar kayu, tapi lambang tanggung jawab dan kebersamaan. Kami tidak perlu jadwal resmi, semua sudah tahu giliran masing-masing. Kalau lupa gantung, ya siap-siap jaga dua malam,” ujar H. Suparno, Kepala Desa Kelurahan, sambil tersenyum bangga.

Tradisi unik ini menarik perhatian Kapolres Semarang, AKBP Ratna Quratul Ainy, S.I.K., M.Si., saat melakukan supervisi Satkamling di Dusun Candisari, Jumat (24/10/2025).

Dalam kunjungan tersebut, Kapolres turut meninjau pos ronda dan berinteraksi langsung dengan warga setempat.

“Tradisi URAK adalah bentuk kearifan lokal yang luar biasa. Di tengah era digital, masyarakat Candisari masih memegang teguh nilai gotong royong dan tanggung jawab bersama. Ini contoh nyata bahwa keamanan berawal dari kepedulian,” ujar AKBP Ratna disambut tepuk tangan warga.

Beliau juga menambahkan bahwa sistem sosial seperti ini sejalan dengan semangat Polri Presisi yang mengedepankan kemitraan antara aparat dan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan.

“Semangat warga di sini patut dicontoh. Kolaborasi seperti inilah yang membangun keamanan dari hati, bukan sekadar patroli dari luar,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekcam Jambu, Eny Kuswatun, yang hadir mewakili Camat Jambu, menyampaikan apresiasi atas inisiatif warga Candisari yang mampu menjaga budaya sekaligus menciptakan keamanan tanpa konflik.

“Semangat kebersamaan seperti ini luar biasa. Warga Candisari menunjukkan bahwa kearifan lokal bisa berjalan berdampingan dengan kemajuan zaman,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Semarang juga menyerahkan bantuan perlengkapan jaga malam kepada perwakilan warga sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan Satkamling.

Acara kemudian dimeriahkan dengan penampilan kesenian kuda lumping oleh para remaja setempat, menjadi simbol perpaduan antara budaya tradisional dan semangat muda di era media sosial.

“Anak-anak muda kami tetap bangga dengan budaya sendiri. Mereka aktif di media sosial, tapi juga tetap ikut menjaga kampung,” tambah H. Suparno.

Tradisi URAK kini bukan hanya simbol keamanan, tetapi juga menjadi jembatan sosial yang menguatkan rasa memiliki antarwarga. Sebuah warisan sederhana yang terus hidup, membuktikan bahwa keamanan sejati bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga hasil nyata dari cinta warga terhadap lingkungannya.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *