Akurat dan Terpercaya
HomeIndeks

Tidak Terawatnya Tuping 12 di Dermaga Bom Kalianda Sebagai Aset DKP Provinsi Lampung Tuwai Sorotan Tajam 

banner 120x600

Wartapro.id – Lampung Selatan.

Tidak terawat dan terbelengkalainya tugu 3 Tuping di kawasan wisata kuliner Dermaga Bom Kalianda Lampung Selatan memicu gelombang sorotan tajam dari keluarga besar Pahlawan Nasional Radin Inten II yang juga merupakan perwakilan Keratuan Lampung.

banner 325x300

Diketahui, bahwa lokasi tugu 3 Tuping di kawasan wisata kuliner Dermaga Bom Kalianda Lampung Selatan itu sebagai aset dan kewenangan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung.

Juru bicara Keratuan Lampung, Yogha Pramana Aji, SH (Raden Mas Kesuma Ratu), angkat bicara dan menegaskan bahwa tugu tersebut memang menggambarkan Pasukan Tuping 12, pasukan khusus yang memiliki nilai sejarah dan kehormatan tinggi bagi Keratuan.

“Saya membenarkan bahwa wajah Tugu Tuping tersebut merupakan wajah Pasukan Tuping 12 milik Keratuan kami, Tuping 12 ini sakral, tidak boleh dipahami sebagai topeng hiburan. Bagi kami, Tuping adalah simbol pasukan khusus yang berani berkorban demi keratuan, dengan sejarah yang panjang, penuh darah dan air mata demi kehormatan leluhur. Dan yang juga perlu dikerahui bahwa masing-masing Tuping ini memiliki keluarga keturunan”. Terangnya detail.

Namun Yogha menyayangkan pembangunan tugu itu dilakukan tanpa adanya komunikasi dengan pimpinan Keratuan.

“Saya belum pernah mengetahui pemerintah berkoordinasi dengan Kakanda kami Dalom Kesuma Ratu sebagai pimpinan Keratuan terkait pembuatan Tugu Wajah Tuping itu,” ungkapnya

Yogha menekankan bahwa Tuping bukan sekadar topeng tradisional yang dapat diperlakukan sembarangan. Bagi Keratuan Lampung, Tuping merupakan simbol pengorbanan dan keberanian para leluhur.

“Mereka mesti tahu bahwa Tuping itu bukan topeng yang dianggap lelucon atau hiburan. Bagi kami, Tuping adalah pasukan khusus yang rela berkorban demi Keratuan, penuh pengorbanan darah dan air mata. Masing-masing Tuping memiliki keluarga keturunan,” tegasnya.

Selain soal koordinasi, Yogha juga menyoroti kondisi tugu yang kini mengalami kerusakan akibat kurangnya perawatan.

“Koordinasi tidak ada, perawatannya pun tidak dijaga. Jadi saya bingung sebenarnya mereka ini maunya apa?” ucapnya

Ia menambahkan bahwa pihak Keratuan dari dulu tidak mempermasalahkan pembangunan tugu tersebut, meski tanpa koordinasi, selama dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan menjadi ikon Lampung.

“Dulu kami tidak pernah mempermasalahkan mereka membuat tugu tanpa koordinasi, asalkan bisa bermanfaat sebagai ikon Lampung tercinta. Tapi melihat kondisi ini, jujur saya merasa miris dan prihatin” ujarnya.

Yogha mengaku enggan membawa persoalan ini kepada para pemimpin Keratuan lantaran khawatir menyinggung perasaan mereka.

“Saya tidak berani membahas hal ini kepada Dunungan kami Radin Imba Kesuma Ratu V ataupun ayahandanya Dalom Kesuma Ratu IV,”. Sambungnya.

Yogha Pramana mengingatkan kepada instansi terkait yang bertanggung jawab atas terbelengkalainya tugu 3 anggota Tuping 12 tersebut.

“Kerusakan ini bukan hanya soal fisik tugu, tetapi mencederai marwah budaya. Sebab bagi kami, lebih baik tidak membangun tugu sama sekali daripada membangun tetapi kemudian dibiarkan rusak tanpa perawatan. Sebuah simbol budaya tidak cukup hanya diwujudkan, tetapi harus dijaga dengan penuh tanggung jawab”. Tegasnya

“Kami berharap pemerintah dapat lebih menghargai nilai budaya lokal dengan perencanaan, komunikasi, dan pemeliharaan yang jauh lebih baik”. Pungkas Yogha Pramana.

Sampai berita ini di lansir, belum ada pernyataan resmi khususnya dari DKP Provinsi Lampung. (Tim/Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *